Kamis, 26 September 2013

Jurnalistik semester IV/2013

Nama                     :  Dr. Syarifudin, S.Sos.I., M.Sos.I
Bidang Keahlian   : Teknologi Informasi Dakwah.
No. Hp/Home       :  081343372180 
Alamat                  :  Jl. Dr. H. Tarmizi Taher Kebun Cengkeh Batumerah                                        Atas  Kompleks IAIN Ambon.
Email                     :  Facebook syarifudinamq73@ymail.com.                                                                            jurnalistikfotografi@ymail.com, kpiiaianambin@ymail.com
                                 usdakiain@ymail.com .
Fakultas                 :  Dakwah Dan Ushuluddin
Jurusan/Kons.        :  Jurnalistik semester IV/2013
Mata kuliah           :  Jurnalistik  Dakwah
 



I.     Arti Penting Materi Kuliah
Mata kuliah jurnalistik dakwah adalah pengembangan dari ilmu dakwah dan ilmu komunikasi. Mata kuliah ini hadir di dunia akademik akibat banyaknya berita yang tersebar di media cetak dan elektronik yang diproduksi oleh para kapital yang cenderung dapat merusak kesehatan umat manusia. Menurut Josep DeVito (pakar komunikasi) bahwa ekspresi seseorang sangat tergantung pada input berita yang diterima. Teori ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa semakin banyak input berita positif semakin sehat jiwa seseorang, sebaliknya semakin banyak input berita negatif semakin sakit jiwa seseorang. Hal ini sesuai dengan teori Syekh Ali Mahfuz bahwa Jurnalistik Dakwah sebagai obat dari berlimpahnya berita yang berusak pikiran manusia yang tersebar dari berbagai macam media cetak dan elektronik.
Matakuliah ini akan memberikan wawasan kepada mahasiswa jurnalistik dakwah sebagai calon dokter mental mampu mengdiagnosis penyakit masyarakat yang diakibatkan oleh berita-berita negatif yang tersebar diberbagai media massa dan lingkungan masyarakat. Secara teknik matakuliah berusaha memberikan wawasan kepada mahasiswa agar dapat menjadi konsultan media dan profesional dalam menyebarkan berita yang dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai fasilitas penunjang. Selain itu mata kuliah jurnalistik dakwah ini mengajarkan mahasiswa menjadi motivator baik secara lisan, tulisan, perbuatan nyata. Pencerahan ini memiliki  aspek kognitif (kecerdasan berpikir), aspek afektif (kecerdasan empati), dan aspek psikomotorik (kecerdasan berprilaku/akhlaq).
Karena matakuliah ini tergolong baru, ia lahir akibat reson jurnalis sekuler yang cenderung kurang mampu memberikan ruang pencerahkan bagi manusia moderen, sehingga para ilmuan memproduksi ilmu jurnalistik dakwah sebagai anti tesa dari ilmu jurnalis sekuler yang lebih menekankan pada kebutuhan materi semata. Karena pentingnya matakuliah jurnalistik dakwah bagi calon dokter di media atau menjadi konsultan media dibutuhkan fasilitas  media massa sebagai wadah untuk menyebarkan informasi pencerahan untuk mendesain sebuah masyarakat madani. Masyarakat madani yang dimaksudkan adalah masyarakat yang anti kekerasan fisik dan kekerasan psikologis di tengah masyarakat.
Matakuliah jurnalistik dakwah relatif masih baru atau sebut saja masih balita karena pakar di bidang ilmu ini masih sangat kurang. Setidaknya ada dua hal yang harus diklarifikasi sebelum masuk pada pembahasan jurnalistik dakwah. Pelajaran yang akan didapat dalam matakuliah ini antara lain; Pertama, kata Jurnalitik dalam terminologi “jurnalistik dakwah” berfungsi sebagai kata sifat sehingga  bisa dipahami bahwa kegiatan dakwah yang dimaksud adalah bersifat atau melalui media jurnalistik.  Kedua, oleh karena jurnalistik bagian dari komunikasi maka metode pembelajaran “jurnalistik dakwah” dalam matakuliah ini akan meminjam metode (model) ilmu dakwah dan ilmu komunikasi.  Bagi penulis, hal ini tidaklah tabu karena dakwah itu sendiri sangat erat kaitannya dengan komunikasi, bahkan boleh dikatakan sangat mirip.
Salah satu tujuan matakuliah ini adalah untuk menggugah kesadaran mahasiswa bahwa aktifitas seorang jurnalis bukan hanya terbatas menulis berita, tetapi juga bertugas untuk mencerahkan manusia dari berbagai penyakit mental yang merusak alam pikirannya.
Kalau pegertian dakwah disepakati sebagai proses mengajak, membimbing, mengarahkan, memotivasi kaum masyarakat untuk menjalankan pola hidup yang lebih banyak memberika kesejahteraan dan kenyamanan dalam mealkukan interaksi sosial sesama umat manusia. Sebagai Dai/Muballg (komunikator) selain menggunakan media lisan fasilitas media tulisan (produksi berita lewat aktivitas jurnalistik) juga perlu dikembangkan sesuai kebtuhan masyarakat.[1] Dari sinilah bisa dilihat hubungan antara dakwah dan jurnalistik saling menunjang dan melengkapi. Sehingga, seorang jurnalis sangat layak disebut sebagai seorang dai, mubalig, dan motivator di tengah masyarakat.
Menurut A. Faisal Bakti, setidaknya ada beberapa alasan kenapa jurnalistik dakwah menjadi penting.  Pertama, objek bacaan dalam perintah Tuhan yang pertama adalah keharusan membaca alam raya (teks kauniyah) dan teks qauliyah (Alquran dan Hadis). Perintah Allah swt untuk membaca teks qauliyah dan alam raya menunjukkan pentingya dilakukan riset (research) dan pengembangan (development). Kedua, signifikansi al-Qalam (tulisan) ada pada fungsinya sebagai media sebagai penghantar pesan-pesan. Ilmu tidak bisa ditangkap tanpa pembacaan dan pemaknaan oleh manusia. Menurutnya goresan qalam (tekstualitas) lebih kuat sebagai penghantar ilmu dibanding dakwah verbal (oralitas). Jika produk DBQ terbaca dengan baik, ia akan cenderung melahirkan kreatifitas dan kultur baru (cree la culture). Sedangkan Dakwah bi Kalam (DBK) lebih cenderung mewariskan kultur (heriter la culture). Ketiga,  bahwa Al-Quran adalah “berita dari Tuhan” sedangkan jurnalistik adalah “berita yang difahami dari Tuhan yang ditulis oleh tangan manusia”. Dalam hal ini, peran jurnalisitk dakwah sebagai karya tangan manusia adalah mencari, menggali, mengolah, dan memberitakan pesan-pesan Tuhan (Suf Kasma, 2004: x-xi).
Al-Shabuny mengatakan “perhatikanlah Qalam dan segala sesuatu yang ditulisnya” (Muhammad Ali al-Shabûniy, 1996: 529). Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan Qalam dan Kitab yang ditulis, dengan maksud membuka pintu pengajaran keduanya (Ahmad Musthâfa al-Marâgy, t.th: 27). Betapa jurnalistik dakwah itu termasuk nikmat besar yang telah di anugrahkan Tuhan, agar orang dapat menuliskan buah pikiran, keinginan, dan perasaan seseorang (Departemen Agama RI, 1995: 287). Dengan jurnalistik dakwah, ilmu pengetahuan tiada tersisa tercatat, (Hamka, 1983: 40). bahkan para pengarang dan pujangga telah mengantarkan bangsanya untuk merdeka, di-sebabkan sari buah pena para jurnalis (M. Isa Anshary, 1995: 34).
Tulisan seseorang dapat membentuk pendapat umum dan mengubah pola pikir dapat menguncang dunia seketika, hal ini membuat Presiden John Fitzgerald Kennedy pernah menyatakan “lebih takut pada seorang wartawan ketimbang seribu tentara” (Ainur Rafiq Sophiaan, 1993: vii). Dibantu oleh kekuatan pers, Lenin juga mencapai suatu gerakan revolusi, ke titik puncak, lalu mengingatkan “waspadalah terhadap kekuatan pers” (Albert L. Hester dan Wai Lan J., 1997: 41). Karena tarikan pena sang kuli tinta itu bisa merakit sederet tulisan sakti (Garin Nugroho, 1995: 47). Memang, tulisan adalah tamannya para ulama, begitu pameo klasik Ali bin Abi Thalib. (Rusjdi Hamka dan Rafiq, 1983: 40).
Umat Islam dalam perspektif kekinian harus semakin kritis terhadap berita yang tiap hari diterima. Salah satu dari berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam tersebut adalah menumbuh kembangkan jurnalistik Islami, atau menjadikan pers Islami sebagai “ideologi” para jurnalis muslim, demi membela kepentingan umat manusia, dan juga mensosialisasikan nilai-nilai keselamatan, kesejahteraan, kedamaian sekaligus meng-counter dan memfilter derasnya arus informasi jahilia moderen dari Barat melalui salurun teknologi informasi media internet, TV, radio, dan media cetak lainnya. Matakuliah ini berlandasakan pada QS Al-Hujurat (49) : 6.
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) óOä.uä!%y` 7,Å$sù :*t6t^Î/ (#þqãY¨t6tGsù br& (#qç7ŠÅÁè? $JBöqs% 7's#»ygpg¿2 (#qßsÎ6óÁçGsù 4n?tã $tB óOçFù=yèsù tûüÏBÏ»tR ÇÏÈ  
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Pesan-pesan dari Al-Quran tersebut yang menjadi pondasi dalam mempelajari matakuliah jurnalisitik dakwah. Yakni mahasiswa akan diberikan cara mengolah, merawat, dan menjaga  informasi agar tidak merusak orang lain akibat kurang adanya tahkik (konfirmasi) yang jelas. Sebagai mahasiswa perlu menjelaskan bahwa “setiap informasi itu perlu diferfikasi darimanapun datangnya” siapa narasumbernya, apakah narasumbernya jujur (credible), apa materinya, kepada siapa ia maksudkan, bagaimana cara menyampaikan, lewat saluran apa informasi itu di sampaikan, dan apa manfaat dari informasi tersebut. Inilah ruang lingkup kajian jurnalistik dakwah.
Ilmu ini akan mengantar mahasiswa pandai berargumentasi lewat tulisan (jurnal/tulisan) dengan cara yang sopan, santun, berbobot, dan bermanfaat bagi bagi orang lain. Jurnalistik dakwah memiliki peran untuk memperkenalkan kepada mahasiswa jurnalistik cara pandang baru tentang dunia jurnalistik melalui cara kerja dan cara mendesain berita atau informasi.
Dalam matakuliah ini akan diperkenalkan teori Van Dijk tentang cara menelah teks (Berita). Kajian  teori yang akan digunakan dalam menginterpretasi konten berita politik adalah Teori berita politik Van Dijk.  Teori ini akan mengantarkan Mahasiswa untuk mengungkap berita/pesan/tujuan/di balik metateks yang ditulis oleh para wartawan. Unsur-unsur yang akan diteliti dan ditelaah dalam  konten berita politik adalah; Tema,  Semantiknya, Sintaktik,  Stilistika, Restoris.  
a.       Mempelajarai, dan menelaah: Tema, Menyelidiki, meninterpretasi, serta menelaah penentuan topik dan batasannya fokus berita.[2] Van Dikj mendefinisikan topik sebagai struktur makro dari berita politik dan pesan-pesan singkatdi head line koran.[3] Tema berita politik yang narasikan.
b.      Mempelajari dan menelaah Skematiknya; Struktur konten  berita, inti pesan (isi) dan kesimpulan. Dalam mendesain skema konten berita perlu dipertimbangkan daya serap dari mad’u sehingga inti pesan yang akan dipublikasikan dalam membangun skema bisa di awal dan di akhir kalimat.[4] Penentuan inti berita yang akan disampaikan kepada pembaca atau pendengar membutuhkan kreatifitas visualiser media cetak.
c.       Mempelajari dan menelaah Semantiknya; terminologi ilmu semantik menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Makna yang ditonjolkan dalam teks, makna yang dihaluskan dalam teks dan makna yang tersembunyi dalam teks.
d.      Mempelajari dan menelaah Sintaktik; Khas Sintaksis tampil maksimal dengan cara sendiri secara positif dengan pemilihan kalimat dan kata yang spesifik sesuai kecendrungan berita politik yang ingi disampaikan kepada masyarakat. 
e.       Mempelajari dan menelaah Stilistika: Pusat perhatian stylistika adalah gaya bahasa yakni dalam mentransformasikan pesan Citarasa konten berita politik antara lain; kalimat, majas, metafora, citraan, pola rima, matra yang digunakan dan gaya bahasa secara intrapersonal seseorang.
f.        Menyelidiki, meninterpretasi, serta menelaah Restoris; Pola desain berita hiperbolik (berlebihan) pilihan kata dan kalimat yang berlebihan,[5] Penekatan isu berita.

II.       Tujuan Perkuliahan
Secara metodologis mempelajari dan memberikan keterampilan kepada Mahasiswa Jurnalistik mampu menelaah berita-berita dikoran yang dapat merusak alam pikiran masyarakat. Hal ini bertujuan memberikan kesadaran kepada mahasiswa bahwa pemberitaan di koran itu perlu ada keterampilan untuk mengetahui pesan-pesan yang tersembunyi di balik teks baik dari aspek idiologi, dan motivasi pemberitaan. Mahasiswa mampu menelaah, menjelaskan, dan memetakan berita yang dapat memberikan spirit pencerahan kepada masyarakat sehingga melahirkan budaya kreatif, inovatif, dan memiliki budipekerti yang luhur. Mahasiswa jurusan dakwah dan konsentrasi jurnalisitik diarahkan menjadi kaum intelektual Maluku yang akan menjadi dokter mental dan konsultan media. Selain itu menjadi garda terdepan mencerahkan manusia dari  ilmu yang dimiliki untuk memberikan gagasan tentang berita-berita yang dapat membangun wawasan kebangsaan yang berkarakter Islam ke Indonesiaan.
Salah satu ciri karakter mahasiswa jurusan dakwah dan konsentrasi jurnalisitik IAIN Ambon adalah selalu tampil didepan menjadi jurnalis yang memiliki inisiatif, inovatif, argumentasi, dan kreatifitas dalam perbaikan prilaku umat manusia melalui cara menyampaikan gagasannya lewat tulisan yang dapat memberikan spirit perubahan dan pencerahan kearah yang lebih menyenangkan bagi kemaslahatan umat manusia di Maluku dan Indonesia secara holistik. Mahasiswa Jurnalis, tidak boleh mencela, mengejek, menghindari perdebatan dan perselisihan yang tiada manfaatnya. Hindari perdebatan dengan menjatuhjan orang lain dalam menulis. Nilai dakwah dan komunikasi perlu memiliki sifat amanah, siddiq(dapat dipercaya), fathanah(cerdas menyampaikan argumentasi), dan qanaah(pasra pada Allah).

III.   Kompetensi
a.    Mahasiswa memiliki kompetensi Amanah, Siddiq, Fathanah, dan tablig. Kemampuan ini dijabarkan tiga kecerdasan oleh teori Blum yaitu: 1). Mahasiswa memiliki kemampuan kognitif (kecerdasan berpikir jenih) melalui analisis berita dari berbagai media yang dipublikasikan di tengah masyarakat. 2). Mahasiswa memiliki kemampuan afektif (kecerdasan merasakan berita yang cenderung merusak masyarakat). 3). Mahasiswa memiliki kemampuan psikomotorik (kecerdasan berprilaku budipekerti yang luhur dalam menulis berita).
b.    Tidak mencela, mencurangi, menghindari perdebatan dan perselisihan yang kurang mendatangkan perbaikan manusia. Hindari perdebatan dengan menjatuhjan orang lain dalam berkomunikasi.
c.    Mampu menjadi MC, Presenter, dan Kamera MD 10000 Panasonic. Selain itu mampu menjelaskan jenis pengambilan gambar  secara professional.


IV.   Strategi Pembelajaran
Untuk mencapai target pembelajaran, matakuliah jurnalistik dakwah ini menggunaan strategi, Pertama: materi presentasi hasil analisis teks berkelompok, Kedua: pemberian tugas-tugas (home work) yang menekankan aspek penguasaan materi pada mahasiswa, Ketiga: tugas-tugas yang menekankan aspek produk studi, yaitu : pembuatan makalah secara individual untuk melatih mahasiswa menulis secara sistematis, Keempat: tugas-tugas yang menekankan aspek motorik, apektif, dan kognitif proses studi, yaitu keaktifan dalam diskusi grup kecil/besar dengan berbagai strategi, seperti Reading guide, Power of two, Point counter point, Information search, Card sort, mujadalah, hikmah, Question students have, Everyone is a teacher here, bola salju. Dari strategi tersebut disesuaikan dengan materi dari pertemuan ke pertemuan. Semua strategi itu saling bersinergis untuk memperkuat cara pencapaian tujuan pembelajaran yang dimaksud.

V. Referensi  (Bacaan)
Kecerdasan kemampuan berdakwah dan berkomunikasi sangat ditentukan pada bahan bacaan, semakin banyak bacaan semakin baik cara menyampaikan argumentasi informasi yang anda sampaikan kepada objek dakwah dan komunikasi. Begitupula sebaliknya semakin sedikit bacaan anda semakin sedikitpula informasi yang tranformasikan pada audiens.
1.      Buku Daras Alaudin, Dasar-Dasar Jurnalisitik. Cet. I; Makassar: berkah tami, 2006.
2.      Suf Kasman, Jurnalisme Universal Cet. Bandung: Pustaka Teraju, 2007.
3.      Deddy Mulyana, Komunikasi efektif  Cet. II; Bandung: Rosdakarya, 2007.
4.      H.R. Riyadi Soeprapto, Interaksionisme Simbolik: Perspektif Sosiologi Moderen  Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
5.      M. Munir, Metode Dakwah  Cet. II; Jakarta: Prenada Group, 2006.
6.      M. Mansur Amin, Dakwah Islam dan Pesan Moral Cet. I; Jakarta: Al-Amin Press, 1997.
7.      Syarifudin, Metode Dakwah Kontemporer  Cet. I; Ambon, University Press IAIN Ambon, 2009.
8.      Syarifudin, Sistem Informasi Dakwah, Cet. I; Makassar, University Press UIN Alauddin, 2009.
9.      Syarifudin, Jurnalisitik Dakwah  Cet. I; Jakarta: Prenada Media Group, 2008.

VI.      Penilaian Dosen pada Mahasiswa.
Perkuliahan seni berdakwah ini bagi mahasiswa komunikasi penyiaran Islam dan konsentrasi jurnalistik memiliki peran strategis karena terampil menyapaikan pesan-pesan agama pada masyarakat secara baik dan menyenagkan di tengah masyarakat multikultural.
1.      Akhlaq                                                         20%
2.      Keaktifan dalam kelas                                 10 %     
2.  Kehadiran                                                     10 %
2.  Ujian Pertengahan Semester                         20 %
3.  Ujian Akhir Semester                                    20 %
4.  Tugas Makalah                                              20 % +        
                                                   Jumlah         100 %


VII.          Petak Konsep materi Perkulihan
Penerapan teori dakwah dan komunikasi dalam bentuk praktis, adalah suatu usaha maksimal yang harus dicapai dalam proses pembelajaran ini antara lain:Sumber berita, Dan standar publikasi, Aqidah, syari'ah, dan akhlaq, Mimbar Khutbah, Tablig, Internet, HP IPed, Ipon, Koran, Majalah, Buku, Komik, Brosure, Pertelevisian, dll.
Dari media jurnalistik dakwah tersebut yang mebuta masyarakat Sakit mental seperti; Prilaku  merugikan orang lain, Tidak suka berbagi kebahagiaan. Kesadaran kurang pada Tuhan, setiap perkataannya merusak orang lain. Menuju masyarakat yang Sehat  Mental dalam prilaku  yang  menyenangkan orang lai, suka berbagi kebahagiaa, kesadaran pada kebesaran Tuhan, Setiap perkataan menyenangkan orang lain.

VIII.       Desain Perkuliahan.
Pertemuan
Materi
Penanggung Jawab
1
Kontrak Belajar
Dosen dan Mahasiswa
2
Sumber Berita dan Standar Publiaksi: Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq (Kognitif, Afektif, Psikomotorik).
Dosen dan Mahasiswa
3
Teknik pembautan konsep Dakwah:
Al-Ma’ani (Kecerdasan memaknai isi berita).
Al-Bayani (Kecerdasan menjelaskan isi berita).
Al-Badi (Kecerdasan memilih kata dan kalimat).
Dosen dan Mahasiswa
4
Teknik pembuatan konsep dakwah di media:
1.       Membuat konsep scrip Sastra dakwah.
2.       Membuat konsep dakwah di media koran
3.       Membuat konsep dakwah di media internet (media global).
4.       Membuat konsep dakwah media televisi
Indikator konsep Jurnalis Dakwah
  • Skill  Aqidah (Kognitif)
  • Skill  Afektif, Psikomotorik).
  • Skill Akhlaq (Budipekerti)
Dosen dan Mahasiswa
5
Kemasan Berita dan Pracetak dan Videografi.
Dosen dan Mahasiswa
6
Pengenalan Kamera Panasonic MD 10000
Dosen dan Mahasiswa
7
Teknik pengcahayaan (laighting)
Dosen dan Mahasiswa
8
Ujian Tengah Semester
Dosen dan Mahasiswa
9
Jenis-Jenis pengambilan gambar dengan menggunakan kamera Panasonic MD 10000 sudut pengambilan kamera:
1.        CU (Close Up) Shot yang menampilkan dari batas bahu sampai atas kepala.
2.        MCU (Medium Close Up) Shot yang menampilkan sebatas dada sampai atas kepala.
3.        BCU (Big Close Up) Shot yang menampilkan bagian tubuh atau benda tertentu sehingga tampak besar. Misal : wajah manusia sebatas dagu sampai dahi.
4.        ECU (Extrime Close Up) Shot yang menampilkan detail obyek. Misalnya mata, hidung, atau telinga.
5.        Medium Shot: yang menampilkan sebatas pinggang sampai atas kepala.
6.        TS (Total Shot) Shot yang menampilkan keseluruhan obyek.
7.        Establish Shot yang menampilkan keseluruhan pemandangan atau suatu tempat untuk memberi orientasi tempat di mana peristiwa atau adegan itu terjadi.
8.        Two Shot Shot yang menampilkan dua orang.
9.        Over Shoulder Shot: Pengambilan gambar di mana kamera berada di belakang bahu salah satu pelaku, dan bahu si pelaku tampak atau kelihatan dalam frame. Obyek utama tampak menghadap kamera dengan latar depan bahu lawan main.
10.    High Angle (Bird eye view) Posisi kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil. Normal Angle Posisi kamera sejajar dengan ketinggian mata obyek yang diambil.
11.    Low Angle (Frog eye view) Posisi kamera lebih rendah dari obyek yang diambil. Obyektive Kamera Tehnik pengambilan di mana kamera menyajikan sesuai dengan kenyataannya. Subyektive Kamera Tehnik pengambilan di mana kamera berusaha melibatkan penonton dalam peristiwa. Seolah-olah lensa kamera sebagai mata si penonton atau salah satu pelaku dalam adegan.
Dosen dan Mahasiswa
10
Teknik gerakan kamera menggunakan Camera MD Panasonc 10000:
·      OSS (Over Shoulder Shot) Pengambilan gambar di mana kamera berada di belakang bahu salah satu pelaku, dan bahu si pelaku tampak atau kelihatan dalam frame. Obyek utama tampak menghadap kamera dengan latar depan bahu lawan main.
·      Sudut Pengambilan Kamera
·      High Angle (Bird eye view) Posisi kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil.
·      Normal Angle Posisi kamera sejajar dengan ketinggian mata obyek yang diambil.
Dosen dan Mahasiswa
11
Teknik pengambilan gambar:
·      Low Angle (Frog eye view) Posisi kamera lebih rendah dari obyek yang diambil.
·      Obyektive Kamera Tehnik pengambilan di mana kamera menyajikan sesuai dengan kenyataannya.
·      Subyektive Kamera Tehnik pengambilan di mana kamera berusaha melibatkan penonton dalam peristiwa. Seolah-olah lensa kamera sebagai mata si penonton atau salah satu pelaku dalam adegan.
·      Gerakan Kamera: Panning adalah gerakan kamera secara horizontal (posisi kamera tetap di tempat) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.
Dosen dan Mahasiswa
12
Praktikum pengambilan gambar
Dosen dan Mahasiswa
13
Praktikum pengambilan gambar
Dosen dan Mahasiswa
14
Videografi
Dosen dan Mahasiswa
15
Videografi
Dosen dan Mahasiswa
16
Teknik publikasi
Dosen dan Mahasiswa

Ujian Akhir Semester
Mahasiswa
IX.             Tugas Lepas.





[1] Ramlah M, Jurnalistik Dakwah (Cet. I; Jakarta: Afid Publishing, 2011), h. 33.
[2]Ahmad Sumanto, Jurnalistik Islami; Panduan Praktis Bagi Jurnalis Muslim,  (Cet. Bandung: Mizan 2002), h. 76.
[3]Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Cet. III; Bandung: Rosdakarya, 2006), h. 271.
[4]Alex Sobur, Analisis Wacana Teks Media: Untuk Analisis Wanaca, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing, (Cet. IV; Bandung: Rosdakarya, 2006), h. 79.
[5]Syarifudin, Teknologi Informasi Dakwah (Cet.I; Makassar: Universty Press, 2011). 79.