Nama : Dr. Syarifudin, S.Sos.I., M.Sos.I
Bidang
Keahlian : Teknologi Informasi Dakwah.
No.
Hp/Home : 081343372180
Alamat : Jl. Dr. H. Tarmizi Taher Kebun Cengkeh Batumerah Atas
Kompleks IAIN Ambon.
Email
: Facebook syarifudinamq73@ymail.com. jurnalistikfotografi@ymail.com,
kpiiaianambin@ymail.com
Fakultas : Dakwah Dan Ushuluddin
Jurusan/Kons. : Jurnalistik
semester IV/2013
Mata kuliah : Jurnalistik Dakwah
I.
Arti Penting Materi Kuliah
Mata
kuliah jurnalistik
dakwah adalah pengembangan dari ilmu dakwah
dan ilmu komunikasi. Mata kuliah ini hadir di dunia akademik akibat banyaknya
berita yang tersebar di media cetak dan elektronik yang diproduksi oleh para
kapital yang cenderung dapat merusak kesehatan umat manusia. Menurut Josep DeVito (pakar
komunikasi) bahwa ekspresi seseorang sangat tergantung pada input berita yang diterima. Teori ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa semakin banyak input berita positif semakin sehat jiwa
seseorang, sebaliknya semakin banyak input berita negatif semakin sakit jiwa
seseorang.
Hal ini sesuai dengan teori Syekh Ali Mahfuz bahwa Jurnalistik Dakwah sebagai
obat dari berlimpahnya berita yang berusak pikiran manusia yang tersebar dari
berbagai macam media cetak dan elektronik.
Matakuliah ini akan memberikan wawasan kepada mahasiswa
jurnalistik dakwah sebagai calon dokter mental mampu mengdiagnosis penyakit
masyarakat yang diakibatkan oleh berita-berita negatif yang tersebar diberbagai
media massa dan lingkungan masyarakat. Secara teknik matakuliah berusaha
memberikan wawasan kepada mahasiswa agar dapat menjadi konsultan media dan
profesional dalam menyebarkan berita yang dengan memanfaatkan teknologi
informasi sebagai fasilitas penunjang. Selain itu mata kuliah jurnalistik
dakwah ini mengajarkan mahasiswa menjadi motivator baik secara lisan, tulisan,
perbuatan nyata. Pencerahan ini memiliki
aspek kognitif (kecerdasan berpikir), aspek
afektif (kecerdasan empati), dan aspek psikomotorik (kecerdasan berprilaku/akhlaq).
Karena matakuliah ini tergolong baru, ia lahir akibat reson
jurnalis sekuler yang cenderung kurang mampu memberikan ruang pencerahkan bagi
manusia moderen, sehingga para ilmuan memproduksi ilmu jurnalistik dakwah
sebagai anti tesa dari ilmu jurnalis sekuler yang lebih menekankan pada
kebutuhan materi semata. Karena pentingnya matakuliah jurnalistik dakwah bagi
calon dokter di media atau menjadi konsultan media dibutuhkan fasilitas media massa sebagai wadah untuk menyebarkan informasi pencerahan untuk
mendesain sebuah masyarakat madani. Masyarakat madani
yang dimaksudkan adalah masyarakat yang anti kekerasan fisik dan kekerasan
psikologis di tengah masyarakat.
Matakuliah jurnalistik dakwah relatif masih baru
atau sebut saja masih balita karena pakar di
bidang ilmu ini masih sangat kurang. Setidaknya ada dua hal yang harus diklarifikasi sebelum
masuk pada pembahasan jurnalistik dakwah. Pelajaran
yang akan didapat dalam matakuliah ini antara lain; Pertama, kata Jurnalitik dalam
terminologi “jurnalistik dakwah” berfungsi sebagai kata sifat sehingga bisa dipahami bahwa kegiatan dakwah yang
dimaksud adalah bersifat atau melalui media jurnalistik. Kedua, oleh karena jurnalistik bagian dari
komunikasi maka metode pembelajaran “jurnalistik dakwah” dalam matakuliah ini akan meminjam metode (model) ilmu dakwah dan ilmu komunikasi. Bagi
penulis, hal ini tidaklah tabu karena dakwah itu sendiri sangat erat kaitannya
dengan komunikasi, bahkan boleh dikatakan sangat mirip.
Salah satu tujuan matakuliah ini adalah untuk menggugah kesadaran mahasiswa bahwa aktifitas seorang
jurnalis bukan
hanya terbatas menulis berita, tetapi
juga bertugas untuk mencerahkan manusia dari berbagai penyakit mental yang
merusak alam pikirannya.
Kalau pegertian dakwah disepakati sebagai proses mengajak,
membimbing, mengarahkan, memotivasi kaum masyarakat untuk menjalankan pola hidup yang lebih banyak memberika kesejahteraan dan
kenyamanan dalam mealkukan interaksi sosial sesama umat manusia. Sebagai Dai/Muballg (komunikator) selain
menggunakan media lisan fasilitas media tulisan (produksi berita lewat
aktivitas jurnalistik) juga perlu
dikembangkan sesuai kebtuhan masyarakat.[1]
Dari sinilah bisa dilihat hubungan antara dakwah dan jurnalistik saling menunjang dan melengkapi. Sehingga, seorang jurnalis sangat
layak disebut sebagai seorang dai,
mubalig, dan motivator di tengah masyarakat.
Menurut A. Faisal Bakti, setidaknya ada beberapa alasan
kenapa jurnalistik dakwah menjadi penting.
Pertama, objek bacaan dalam perintah Tuhan yang pertama adalah keharusan
membaca alam raya (teks kauniyah) dan teks qauliyah (Alquran dan Hadis).
Perintah Allah swt untuk membaca teks qauliyah dan alam raya menunjukkan
pentingya dilakukan riset (research) dan pengembangan (development). Kedua,
signifikansi al-Qalam (tulisan) ada pada fungsinya sebagai media sebagai
penghantar pesan-pesan. Ilmu tidak bisa ditangkap tanpa pembacaan dan pemaknaan
oleh manusia. Menurutnya goresan qalam (tekstualitas) lebih kuat sebagai
penghantar ilmu dibanding dakwah verbal (oralitas). Jika produk DBQ terbaca
dengan baik, ia akan cenderung melahirkan kreatifitas dan kultur baru (cree la
culture). Sedangkan Dakwah bi Kalam (DBK) lebih cenderung mewariskan kultur (heriter
la culture). Ketiga, bahwa Al-Quran adalah “berita dari Tuhan” sedangkan jurnalistik adalah “berita yang difahami dari Tuhan yang ditulis oleh tangan manusia”. Dalam hal ini, peran
jurnalisitk dakwah sebagai karya tangan manusia adalah mencari, menggali, mengolah, dan memberitakan pesan-pesan Tuhan (Suf Kasma, 2004: x-xi).
Al-Shabuny mengatakan “perhatikanlah Qalam dan
segala sesuatu yang ditulisnya” (Muhammad Ali al-Shabûniy, 1996: 529). Dalam
ayat ini, Allah bersumpah dengan Qalam dan Kitab yang ditulis, dengan
maksud membuka pintu pengajaran keduanya (Ahmad Musthâfa al-Marâgy, t.th: 27).
Betapa jurnalistik dakwah itu termasuk nikmat besar yang telah di anugrahkan Tuhan, agar orang dapat menuliskan buah pikiran, keinginan, dan perasaan
seseorang (Departemen Agama RI, 1995: 287). Dengan jurnalistik dakwah, ilmu pengetahuan tiada tersisa tercatat, (Hamka, 1983: 40).
bahkan para pengarang dan pujangga telah mengantarkan bangsanya untuk merdeka,
di-sebabkan sari buah pena para jurnalis (M. Isa Anshary, 1995: 34).
Tulisan seseorang dapat membentuk pendapat umum dan
mengubah pola pikir dapat menguncang dunia seketika, hal ini membuat Presiden
John Fitzgerald Kennedy pernah menyatakan “lebih takut pada seorang wartawan
ketimbang seribu tentara” (Ainur Rafiq Sophiaan, 1993: vii). Dibantu oleh
kekuatan pers, Lenin juga mencapai suatu gerakan revolusi, ke titik puncak,
lalu mengingatkan “waspadalah terhadap kekuatan pers” (Albert L. Hester dan Wai
Lan J., 1997: 41). Karena tarikan pena sang kuli tinta itu bisa merakit sederet
tulisan sakti (Garin Nugroho, 1995: 47). Memang, tulisan adalah tamannya para
ulama, begitu pameo klasik Ali bin Abi Thalib. (Rusjdi Hamka dan Rafiq, 1983:
40).
Umat Islam dalam perspektif kekinian harus semakin kritis
terhadap berita yang tiap hari diterima. Salah satu dari
berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam tersebut adalah menumbuh kembangkan
jurnalistik Islami, atau menjadikan pers Islami sebagai “ideologi” para
jurnalis muslim, demi membela kepentingan umat
manusia,
dan juga mensosialisasikan nilai-nilai keselamatan,
kesejahteraan, kedamaian sekaligus meng-counter dan memfilter derasnya arus
informasi jahilia moderen dari Barat melalui salurun teknologi informasi media internet, TV,
radio, dan media cetak lainnya. Matakuliah
ini berlandasakan pada QS Al-Hujurat (49) : 6.
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) óOä.uä!%y` 7,Å$sù :*t6t^Î/ (#þqãY¨t6tGsù br& (#qç7ÅÁè? $JBöqs% 7's#»ygpg¿2 (#qßsÎ6óÁçGsù 4n?tã $tB óOçFù=yèsù tûüÏBÏ»tR ÇÏÈ
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, jika
datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti
agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Pesan-pesan
dari Al-Quran tersebut yang menjadi pondasi dalam mempelajari matakuliah
jurnalisitik dakwah. Yakni mahasiswa akan diberikan cara mengolah, merawat, dan
menjaga informasi agar tidak merusak
orang lain akibat kurang adanya tahkik (konfirmasi) yang jelas. Sebagai
mahasiswa perlu menjelaskan bahwa “setiap informasi itu perlu diferfikasi
darimanapun datangnya” siapa narasumbernya, apakah narasumbernya
jujur (credible), apa materinya, kepada siapa ia maksudkan, bagaimana
cara menyampaikan, lewat saluran apa informasi itu di sampaikan, dan apa
manfaat dari informasi tersebut. Inilah ruang lingkup kajian jurnalistik
dakwah.
Ilmu
ini akan mengantar mahasiswa pandai berargumentasi lewat tulisan
(jurnal/tulisan) dengan cara yang sopan, santun, berbobot, dan bermanfaat bagi
bagi orang lain. Jurnalistik dakwah memiliki peran untuk memperkenalkan kepada
mahasiswa jurnalistik cara pandang baru tentang dunia jurnalistik melalui cara
kerja dan cara mendesain berita atau informasi.
Dalam
matakuliah ini akan diperkenalkan teori Van Dijk tentang cara menelah teks
(Berita). Kajian
teori yang akan digunakan dalam menginterpretasi konten berita politik
adalah Teori
berita politik Van Dijk. Teori ini akan mengantarkan Mahasiswa untuk mengungkap berita/pesan/tujuan/di balik metateks yang ditulis oleh para wartawan. Unsur-unsur
yang akan diteliti dan ditelaah dalam
konten berita politik adalah; Tema, Semantiknya,
Sintaktik, Stilistika, Restoris.
a.
Mempelajarai, dan menelaah: Tema, Menyelidiki, meninterpretasi, serta menelaah penentuan
topik dan batasannya fokus berita.[2]
Van Dikj mendefinisikan topik sebagai struktur makro dari berita politik dan pesan-pesan
singkatdi head line
koran.[3]
Tema berita politik yang narasikan.
b.
Mempelajari dan menelaah Skematiknya; Struktur konten berita, inti pesan (isi) dan kesimpulan.
Dalam mendesain skema konten berita
perlu dipertimbangkan daya serap dari mad’u sehingga inti pesan yang
akan dipublikasikan dalam membangun skema bisa di awal dan di akhir kalimat.[4]
Penentuan inti berita
yang akan disampaikan kepada pembaca atau pendengar membutuhkan kreatifitas
visualiser media cetak.
c.
Mempelajari dan menelaah Semantiknya;
terminologi ilmu semantik menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Makna yang ditonjolkan dalam teks, makna
yang dihaluskan dalam teks dan makna yang tersembunyi dalam teks.
d.
Mempelajari dan menelaah Sintaktik;
Khas Sintaksis tampil maksimal dengan cara sendiri secara positif dengan
pemilihan kalimat dan kata yang spesifik sesuai kecendrungan berita politik
yang ingi disampaikan kepada masyarakat.
e.
Mempelajari dan menelaah Stilistika: Pusat perhatian stylistika
adalah gaya bahasa yakni dalam mentransformasikan pesan Citarasa konten berita politik antara lain; kalimat, majas, metafora,
citraan, pola rima, matra yang digunakan dan gaya bahasa secara intrapersonal
seseorang.
f.
Menyelidiki, meninterpretasi,
serta menelaah Restoris; Pola desain berita hiperbolik (berlebihan) pilihan kata dan kalimat yang berlebihan,[5] Penekatan isu berita.
II.
Tujuan
Perkuliahan
Secara
metodologis mempelajari dan memberikan keterampilan kepada Mahasiswa Jurnalistik
mampu menelaah berita-berita dikoran yang dapat merusak alam pikiran masyarakat.
Hal ini bertujuan memberikan kesadaran kepada mahasiswa bahwa pemberitaan di
koran itu perlu ada keterampilan untuk mengetahui pesan-pesan yang tersembunyi
di balik teks baik dari aspek idiologi, dan motivasi pemberitaan. Mahasiswa
mampu menelaah, menjelaskan, dan memetakan berita yang dapat memberikan spirit
pencerahan kepada masyarakat sehingga melahirkan budaya kreatif, inovatif, dan
memiliki budipekerti yang luhur. Mahasiswa jurusan dakwah dan konsentrasi
jurnalisitik diarahkan menjadi kaum intelektual Maluku yang akan menjadi dokter
mental dan konsultan media. Selain itu menjadi garda terdepan mencerahkan
manusia dari ilmu yang dimiliki untuk
memberikan gagasan tentang berita-berita yang dapat membangun wawasan kebangsaan
yang berkarakter Islam ke Indonesiaan.
Salah
satu ciri karakter mahasiswa jurusan dakwah dan konsentrasi jurnalisitik IAIN
Ambon adalah selalu tampil didepan menjadi jurnalis yang memiliki inisiatif,
inovatif, argumentasi, dan kreatifitas dalam perbaikan prilaku umat manusia
melalui cara menyampaikan gagasannya lewat tulisan yang dapat memberikan spirit
perubahan dan pencerahan kearah yang lebih menyenangkan bagi kemaslahatan umat
manusia di Maluku dan Indonesia secara holistik. Mahasiswa Jurnalis, tidak boleh
mencela, mengejek, menghindari perdebatan dan perselisihan yang tiada
manfaatnya. Hindari perdebatan dengan menjatuhjan orang lain dalam menulis.
Nilai dakwah dan komunikasi perlu memiliki sifat amanah, siddiq(dapat
dipercaya), fathanah(cerdas menyampaikan argumentasi), dan qanaah(pasra
pada Allah).
III.
Kompetensi
a.
Mahasiswa
memiliki kompetensi Amanah, Siddiq, Fathanah, dan tablig. Kemampuan ini
dijabarkan tiga kecerdasan oleh teori Blum yaitu: 1). Mahasiswa memiliki
kemampuan kognitif (kecerdasan berpikir jenih) melalui analisis berita dari
berbagai media yang dipublikasikan di tengah masyarakat. 2). Mahasiswa memiliki
kemampuan afektif (kecerdasan merasakan berita yang cenderung merusak
masyarakat). 3). Mahasiswa memiliki kemampuan psikomotorik (kecerdasan
berprilaku budipekerti yang luhur dalam menulis berita).
b.
Tidak mencela,
mencurangi, menghindari perdebatan dan perselisihan yang kurang mendatangkan
perbaikan manusia. Hindari perdebatan dengan menjatuhjan orang lain dalam
berkomunikasi.
c.
Mampu menjadi
MC, Presenter, dan Kamera MD 10000 Panasonic. Selain itu mampu menjelaskan
jenis pengambilan gambar secara
professional.
IV. Strategi Pembelajaran
Untuk
mencapai target pembelajaran, matakuliah jurnalistik dakwah ini menggunaan
strategi, Pertama: materi presentasi hasil analisis teks berkelompok, Kedua:
pemberian tugas-tugas (home work) yang menekankan aspek penguasaan
materi pada mahasiswa, Ketiga: tugas-tugas yang menekankan aspek produk studi,
yaitu : pembuatan makalah
secara individual untuk melatih mahasiswa menulis secara sistematis, Keempat:
tugas-tugas yang menekankan aspek motorik, apektif, dan kognitif proses studi,
yaitu keaktifan dalam diskusi grup kecil/besar dengan berbagai strategi,
seperti Reading guide, Power of two,
Point counter point, Information search, Card sort, mujadalah, hikmah, Question
students have, Everyone is a teacher here, bola salju. Dari strategi tersebut
disesuaikan dengan materi dari pertemuan ke pertemuan. Semua strategi itu saling bersinergis untuk
memperkuat cara pencapaian tujuan pembelajaran yang dimaksud.
V. Referensi (Bacaan)
Kecerdasan
kemampuan berdakwah dan berkomunikasi sangat ditentukan pada bahan bacaan,
semakin banyak bacaan semakin baik cara menyampaikan argumentasi informasi yang
anda sampaikan kepada objek dakwah dan komunikasi. Begitupula sebaliknya
semakin sedikit bacaan anda semakin sedikitpula informasi yang tranformasikan
pada audiens.
1.
Buku Daras Alaudin, Dasar-Dasar
Jurnalisitik. Cet. I; Makassar: berkah tami, 2006.
2.
Suf Kasman, Jurnalisme
Universal Cet. Bandung: Pustaka Teraju, 2007.
3.
Deddy Mulyana, Komunikasi
efektif Cet. II; Bandung:
Rosdakarya, 2007.
4.
H.R. Riyadi Soeprapto, Interaksionisme
Simbolik: Perspektif Sosiologi Moderen
Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
5.
M. Munir, Metode Dakwah Cet. II; Jakarta: Prenada Group, 2006.
6.
M. Mansur Amin, Dakwah Islam dan
Pesan Moral Cet. I; Jakarta: Al-Amin Press, 1997.
7.
Syarifudin, Metode Dakwah
Kontemporer Cet. I; Ambon,
University Press IAIN Ambon, 2009.
8.
Syarifudin, Sistem Informasi
Dakwah, Cet. I; Makassar, University Press UIN Alauddin, 2009.
9.
Syarifudin, Jurnalisitik
Dakwah Cet. I; Jakarta: Prenada
Media Group, 2008.
VI.
Penilaian
Dosen pada Mahasiswa.
Perkuliahan
seni berdakwah ini bagi mahasiswa komunikasi penyiaran Islam dan konsentrasi
jurnalistik memiliki peran strategis karena terampil menyapaikan pesan-pesan
agama pada masyarakat secara baik dan menyenagkan di tengah masyarakat
multikultural.
1. Akhlaq 20%
2. Keaktifan dalam
kelas 10
%
2. Kehadiran 10
%
2. Ujian
Pertengahan Semester 20
%
3. Ujian Akhir
Semester 20
%
Jumlah 100
%
VII.
Petak
Konsep materi Perkulihan
Penerapan
teori dakwah dan komunikasi dalam bentuk praktis, adalah suatu usaha maksimal
yang harus dicapai dalam proses pembelajaran ini antara lain:Sumber berita, Dan
standar publikasi, Aqidah, syari'ah, dan akhlaq, Mimbar Khutbah, Tablig,
Internet, HP IPed, Ipon, Koran, Majalah, Buku, Komik, Brosure, Pertelevisian,
dll.
Dari
media jurnalistik dakwah tersebut yang mebuta masyarakat Sakit mental
seperti; Prilaku merugikan orang lain,
Tidak suka berbagi kebahagiaan. Kesadaran kurang pada Tuhan, setiap
perkataannya merusak orang lain. Menuju masyarakat yang Sehat Mental dalam prilaku yang
menyenangkan orang lai, suka berbagi kebahagiaa, kesadaran pada kebesaran
Tuhan, Setiap perkataan menyenangkan orang lain.

VIII.
Desain
Perkuliahan.
|
Pertemuan
|
Materi
|
Penanggung Jawab
|
|
1
|
Kontrak Belajar
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
2
|
Sumber Berita dan Standar Publiaksi: Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq (Kognitif, Afektif, Psikomotorik).
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
3
|
Teknik pembautan
konsep Dakwah:
Al-Ma’ani (Kecerdasan memaknai isi berita).
Al-Bayani (Kecerdasan menjelaskan isi berita).
Al-Badi (Kecerdasan memilih kata dan kalimat).
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
4
|
Teknik pembuatan
konsep dakwah di media:
1.
Membuat konsep scrip Sastra dakwah.
2.
Membuat konsep dakwah di media koran
3.
Membuat konsep dakwah di media internet
(media global).
4.
Membuat konsep dakwah media televisi
Indikator konsep Jurnalis Dakwah
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
5
|
Kemasan Berita dan Pracetak dan
Videografi.
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
6
|
Pengenalan Kamera
Panasonic MD 10000
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
7
|
Teknik pengcahayaan
(laighting)
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
8
|
Ujian Tengah
Semester
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
9
|
Jenis-Jenis
pengambilan gambar dengan menggunakan kamera Panasonic MD 10000 sudut
pengambilan kamera:
1.
CU
(Close Up) Shot yang menampilkan dari batas bahu sampai atas kepala.
2.
MCU
(Medium Close Up) Shot yang menampilkan sebatas dada sampai atas kepala.
3.
BCU (Big
Close Up) Shot yang menampilkan bagian tubuh atau benda tertentu sehingga
tampak besar. Misal : wajah manusia sebatas dagu sampai dahi.
4.
ECU
(Extrime Close Up) Shot yang menampilkan detail obyek. Misalnya mata, hidung,
atau telinga.
5.
Medium
Shot: yang menampilkan sebatas pinggang sampai atas kepala.
6.
TS
(Total Shot) Shot yang menampilkan keseluruhan obyek.
7.
Establish
Shot yang menampilkan keseluruhan pemandangan atau suatu tempat untuk memberi
orientasi tempat di mana peristiwa atau adegan itu terjadi.
8.
Two
Shot Shot yang menampilkan dua orang.
9.
Over
Shoulder Shot: Pengambilan gambar di mana kamera
berada di belakang bahu salah satu pelaku, dan bahu si pelaku tampak atau
kelihatan dalam frame. Obyek utama tampak menghadap kamera dengan latar depan
bahu lawan main.
10.
High
Angle (Bird eye view) Posisi kamera lebih
tinggi dari obyek yang diambil. Normal Angle Posisi kamera sejajar dengan
ketinggian mata obyek yang diambil.
11.
Low
Angle (Frog eye view) Posisi kamera lebih
rendah dari obyek yang diambil. Obyektive Kamera Tehnik pengambilan di mana
kamera menyajikan sesuai dengan kenyataannya. Subyektive Kamera Tehnik
pengambilan di mana kamera berusaha melibatkan penonton dalam peristiwa.
Seolah-olah lensa kamera sebagai mata si penonton atau salah satu pelaku
dalam adegan.
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
10
|
Teknik gerakan
kamera menggunakan Camera MD Panasonc 10000:
·
OSS (Over Shoulder Shot)
Pengambilan gambar di mana kamera berada di belakang bahu
salah satu pelaku, dan bahu si pelaku tampak atau kelihatan dalam frame.
Obyek utama tampak menghadap kamera dengan latar depan bahu lawan main.
·
Sudut Pengambilan Kamera
·
High Angle (Bird eye view) Posisi
kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil.
·
Normal Angle Posisi
kamera sejajar dengan ketinggian mata obyek yang diambil.
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
11
|
Teknik pengambilan
gambar:
·
Low Angle (Frog eye view) Posisi
kamera lebih rendah dari obyek yang diambil.
·
Obyektive Kamera Tehnik
pengambilan di mana kamera menyajikan sesuai dengan kenyataannya.
·
Subyektive Kamera Tehnik
pengambilan di mana kamera berusaha melibatkan penonton dalam peristiwa.
Seolah-olah lensa kamera sebagai mata si penonton atau salah satu pelaku
dalam adegan.
·
Gerakan Kamera: Panning
adalah gerakan kamera secara horizontal (posisi kamera tetap di tempat) dari
kiri ke kanan atau sebaliknya.
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
12
|
Praktikum
pengambilan gambar
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
13
|
Praktikum
pengambilan gambar
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
14
|
Videografi
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
15
|
Videografi
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
16
|
Teknik publikasi
|
Dosen dan Mahasiswa
|
|
|
Ujian Akhir Semester
|
Mahasiswa
|
IX.
Tugas
Lepas.
[1] Ramlah M, Jurnalistik
Dakwah (Cet. I; Jakarta: Afid Publishing, 2011), h. 33.
[2]Ahmad Sumanto, Jurnalistik Islami; Panduan Praktis Bagi
Jurnalis Muslim, (Cet. Bandung: Mizan 2002), h. 76.
[3]Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Cet. III; Bandung:
Rosdakarya, 2006), h. 271.
[4]Alex Sobur, Analisis Wacana Teks Media: Untuk Analisis
Wanaca, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing, (Cet. IV; Bandung:
Rosdakarya, 2006), h. 79.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar